Penanggulangan Bencana Banjir Bandang Waduk Alam Way Ela Kabupaten Maluku Tengah

Akibat curah hujan yang sangat tinggi dan lebat dalam beberapa hari terakhir telah mengakibatkan debit air di  bendungan alam (Natural Dam) Way Ela, Negeri Lima, Kecamatan Leihitu-Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah mencapai 20 juta kubik kondisi tersebut telah mengakibatkan melubernya air hingga melewati tanggul batas penahan sehingga menyebabkan bencana banjir bandang  melanda  desa Negeri Lima pada tanggal 25 Juli 2013. Bencana  tersebut telah mengakibatkan 450 unit  rumah  terbawa hanyu, 3 orang dinyatakan hilang dan sekitar 5.000 jiwa melakukan pengungsian. Jumlah korban hilang atau meninggal dunia diperkirakan akan lebih banyak bilamana banjir tersebut terjadi pada malam hari.  “lenyapnya”  sebagian besar tempat tinggal yang ada di Desa Negeri Lima. Desa yang tadinya menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi warga setempat kini berubah menjadi lahan kosong yang rata dan hanya ada beberapa rumah dan  pohon saja yang masih bertahan akibat bencana banjir tersebut. Bangunan seperti rumah warga, sekolah, puskesmas, mushola semuanya telah pergi terbawa arus air bah dari bendungan Way Ela.

Merespon kondisi demikian, maka secara lisan Gubernur Provinsi Maluku telah menetapkan kondisi kedaruratan untuk bencana banjir bandang Way Ela selama 14 hari terhitung mulai tanggal 27 Juli sampai dengan 6 Agustus 2013. Pernyataan Gubernur tersebut ditindaklanjuti oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan membuat struktur organisasi Penanggulangan Bencana dimana Dinas Sosial Provinsi Maluku memiliki tanggungjawab dalam  hal pengumpulan data, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi berupa dapur umum dan shelter. Atas dasar hal tersebut, maka Dinas  Sosial Provinsi Maluku memandang perlu menerjunkan TAGANA Provinsi Maluku untuk  secara langsung ke lokasi bencana dimaksud untuk melaksanakan perlindungan sosial kepada pengungsi bencana yang ada.   

Dibawah koordinasi Dinas Sosial Provinsi Maluku, sebanyak 50 orang Taruna Siaga Bencana terhitung mulai tanggal 23 Juli 2013 telah  melakukan  evakuasi warga yang rentan bencana dan pendistribusian logistik. Mendirikan 1 lokasi dapur umum terhitung mulai tanggal 25 Juli 2013 yaitu untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi yang diperkirakan sekitar 5000 jiwa. Lokasi dapur umum berada di dusun Latan Kecamatan Leihitu dan dikelola oleh sekitar 50 orang anggota Tagana. Untuk optimalisasi pelayanan dapur umum kepada pengungsi, disela-sela melakukan pelayanan pengungsi anggota TAGANA yang ada juga mendapat pengarahahan dari petugas Kementerian Sosial RI yang ditunjuk. Dengan mempertimbangkan jumlah dan sebaran pengungsi serta peran strategis anggota TAGANA di lapangan, maka terhitung mulai tanggal 27 Juli 2013, Gubernur Provinsi Maluku meminta anggota TAGANA ditambah menjadi 100 orang dengan harapan perlindungan sosial terhadap pengungsi dapat berjalan lebih optimal.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Dinas Sosial Provinsi Maluku  mendirikan Dapur umum  di dua tempat yaitu di dusun Latan dan Patoi. Dapur umum di dusun latan dikelola oleh 36 orang anggota TAGANA dengan melayani pemenuhan kebutuhan dasar sekitar 4000 pengungsi, adapun untuk dusun Patoi dikelola oleh 14 orang anggota TAGANA yang melayani sekitar 1000 pengungsi. Dengan berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan anggota BPBD dan Dinas PU, maka tanggal 28 Juli 2013 anggota TAGANA berperan secara aktif dalam melakukan pemetaan calon lokasi pendirian tenda yang berjumlah sekitar 470 unit. Adapun pemataan dilakukan ke beberapa lokasi yang dirujuk oleh tokoh masyarakat sebagai tempat yang potensial untuk mendirikan tenda. Disamping point 5 tersebut, sesuai dengan tanggungjawab yang diemban, maka anggota TAGANA juga berperan aktif dalam melakukan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan oleh anggota TAGANA yang ditunjuk secara khusus oleh Koordinator TAGANA dengan cara menghubungi ketua gugus/Rukun Warga yang menjadi koordinator pengungsi. Kegiatan ini memperoleh perhatian secara khusus dari Dinas Sosial Provinsi Maluku dikarenakan bernilai strategis yaitu data yang terkumpul akan menjadi data base yang dapat digunakan sebagai pijakan dasar bagi SKPD yang ada dalam melakukan intervensi sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

Dalam mempersiapkan tugas tersebut, maka sebelum melakukan pengumpulan data, anggota TAGANA dimaksud memperoleh pendampingan dari Petugas Kementerian Sosial yang ada secara intensif. Tugas lain yang dilaksanakan anggota TAGANA di lokasi pengungsian tidak hanya pada proses pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi saja, namun lebih dari itu berupa kegiatan psikososial yang difokuskan pada pengungsi anak. Kegiatan psikososial yang dilakukan berupa play therapy. Kegiatan ini ditujukan untuk mengurangi atau meminimalisir dampak bencana berupa trauma yang dihadapi  pengungsi anak.

Dari beberapa upaya yang telah dilakukan di atas, dapat disimpulkan bahwa aktifitas yang dilaksanakan oleh anggota TAGANA sudah sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Sosial dan secara umum dapat berjalan dengan baik dan eksistensinya sangat dirasakan karena dapat mewarnai penanggulangan bencana yang dilakukan oleh pemerintah daerah Provinsi Maluku. Meski demikian terdapat beberapa faktor kendala yang dihadapi TAGANA dalam melaksanakan perlindungan sosial, yaitu diantaranya cuaca mendung dan hujan terus menerus yang melanda Provinsi Maluku selama masa tanggap darurat termasuk di lokasi pengungsian membuat beberapa aktifitas pelayanan terhadap pengungsi yang dilakukan  anggota TAGANA menjadi kurang optimal, keterbatasan sarana transportasi  yang ada  menyebabkan mobilitas anggota TAGANA dalam melaksanakan perlindungan sosial terhadap pengungsi maupun aktifitas yangv relevan tidak berjalan secara optimal.